Al-Khat wa Qwaidul Imla
ANALISIS ISI MATERI RASM MUSHAF DALAM MUKHTASAR
AL-TABYIN LI HIJA’ AL-TANZIL KARYA ABU
DAUD SULAIMAN BIN NAJAH
Nur Asiyah1 Rofi Udin2
Jurusan
Pendidikan Bahasa Arab FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo
Abstrak:
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang
Analisis isi materi rasm mushaf dalam kitab Mukhtasar al-Tabyin Li Hija’
al-Tanzil karya Abu Daud Sulaiman Bin Najah. Dalam buku ini menjelaskan secara umum
dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat Arab, diantaranya
yaitu tulisan Rasm Qiyasi, Rasm
‘Arudi, Rasm Usmanai. Sampai pada akhirnya Tujuan
dari artikel ini adalah agar mengetahui kontribusi Abu dawud dalam Rasm mushaf
yaitu dengan mengunakan kaidah hazfu alif pembuangan huruf. Penelitian
ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis
penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (Library Research),
dimana data-data yang didapat berasal dari dokumen-dokumen yang relevan seperti
buku, jurnal, kitab, artikel, dan tulisan-tulisan tertentu. Permasalahan yang
diangkat yaitu bagaimana analisis isi materi rasm
mushaf dalam kitab al-Tabyin li Hija’ al-tamzil karya Abu Daud Sulaiman Bin
Najah. Adapun hasil penelitian ini menunjukan bahwa buku tersebut menjelaskan tentang
pertumbuhan dan perkembangan ilmu hijai masoif. Dimana dalam buku ini
mencakup ringkasan penjelasan singkat
tentang ejaan dalam Al-Qur’an, Dalam
kitab ini lebih rasm ustmani ditulis menggunakan kaidah-kaidah tulisan
tertentu, dianttaranya seperti Kaidah hazf al-huruf (membuang huruf), Ziyadah al-huruf
(penambahan huruf), hamzah (penulisan hamzah), al-badl, al-fasl wa
al-wasl (kaidah al-fasl (pemisahan
kata , dan kaidah al-wasl penyambungan
kata),
dan terakhir yaitu varian qira’ah.
Kata Kunci:
Analisis, Rasm Mushaf, Mukhtasar
A. Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir yang turunkan kepada nabi Muhammad
di maksutkan untuk menjadi petunjuk, bukan saja petunjuk bagi anggota
masyarakat tempat kitab ini diturunkan, tetapi juga sebagai petunjuk bagi
seluruh manusia yang ada di bumi hingga akhir zaman. Al-Qur’an juga merupakan
salah satu sumber hukum islam yang menduduki peringkat teratas dari hadis ijma
dan kias. Seluruh ayatnya berstatus qat’I al-Qurud yang diyakini eksistensinya
sebagai wahyu dari Allah swt. Dengan demikian, autentitas serta orsanilitas
al-Qur’an benar-benar dapat di pertanggung jawabkan, karena ia merupakan wahyu
Allah baik dari segi lafadz maupun dari segi maknanya.
Sejak awal hingga akhir turunnya, seluruh ayat Al-Qur’an telah
ditulis dan di dokumentasikan oleh para juru tulis wahyu yang ditunjuk oleh
rasulullah saw.[1]
Disamping itu seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dinukilkan atau diriwayatkan secara
mutawatir baik secara hafalan maupun tulisan. Al-Qur’an yang dimiliki umat
Islam sekarang, ternyata telah mengalami proses sejarah yang cukup unik dalam
upaya penulisan dan pembukuannya. Pada masa Nabi saw, Al-Qur’an belum ditulis
dan dibukukan dalam satu mushaf.
Al-Qur’an baru ditulis pada kepingan-kepingan tulang’ pelepah-pelepah kurmna,
dan batu-batu sesuai dengan kondisi peradaban masyarakat waktu itu yang belum
mengenal adanya alat tulis menulis seperti kertas.Untuk mengfungsikan al-Qur’an
dan memahami isi serta kandungan maka diperlukan suatu ilmu yang terkait.Salah
satunya adalah ilmu Rasm Al-Qur’an. Tiada satu bacaan selain al-Qur’an yang
dipelajari tata cara penulisanya baik dari segi persesuaian dan perbedaanya
dengan penulisan masa kini, sampai kepada mencari rahasia mengapa kata yang
sama ditulis berbeda.[2]
Ilmu rasm Al-Qur’an yaitu ilmu yang mempelajari tentang penulisan
mushat Al- Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan
lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakannya. Penulisa Al-Qur’an
pada masa Nabi Muhammad Saw. Dilakukan oleh para sahabat- sahabatnya baik dalam
penulisannya maupun urutannya dengan tujuan untuk menyatukan kaum muslimin pada
satu macam mushab dengan meyeragamkan bacaan serta menyatukan tertip susunan
ayat-ayatnya. Dengan demikian tidak terjadi perbedaan pemahaman antara mushaf
dengan mushaf lain.
Seorang orientalis bernama
Noeldeke dalam bukunya, Tarikh Al-Quran, menolak keabsahan huruf-huruf
pembuka dalam banyak surat Al-Quran denganklaim bahwa itu hanyalah
simbol-simbol dalam beberapa teks mushaf yang ada pada kaum muslimin generasi
awal dulu, seperti yang ada pada teks mushhaf Utsmani. Ia berkata bahwa huruf mim adalah simbol untuk mushaf al-Mughirah,
huruf Ha adalah simbol
untuk mushaf Abu Hurairah. Nun untuk mushaf Utsman. Menurutnya, simbol-simbol
itu secara tidak sengaja dibiarkan pada mushaf-mushaf tersebut sehngga akhirnya
terus melekat pada mushaf Al-Quran dan menjadi bagian dari Al-Quran hingga
kini.[3]
Rasmul Al-Qur’an
dikenal juga dengan nama Rasm Utsmani. Tulisan Al-Quran „Utsmani adalah tulisan
yang dinisbatkan kepada Sayyidina Utsman Ra. (Khalifah ke III). Istilah ini
muncul setelah rampungnya penyalinan Al-Quran yang dilakukan oleh tim yang
dibentuk oleh Ustman pada tahun 25 H.,
oleh para ulama. Cara penulisan ini biasanya di istilahkan dengan “Rasmul „Utsmani‟
yang kemudian dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ustman Ra. Para Ulama berbeda
pendapat tentang penulisan ini, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa
tulisan tersebut bersifat taufiqi (ketetapan langsung dari Rasulullah). Mereka
berlandaskan riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah menerangkan kepada salah
satu Kuttab (juru tulis wahyu) yaitu Mu‟awiyah
tentang tatacara penulisan wahyu. Diantara ulama yang berpegang teguh
pada pendapat ini adalah Ibnul al-Mubarak dalam kitabnya “al-Ibriz” yang
menukil perkataan gurunya, Abdul „Aziz al-Dibagh bahwa “tulisan yang terdapat
pada Rasm „Utsmani semuanya memiliki rahasia-rahasia dan tidak ada satupun
sahabat yang memiliki andil. Seperti halnya diketahui bahwa Al-Quran adalah mu‟jizat
begitupula tulisannya.
Rasm al-Qur’an pada mushaf usman yang memiliki
aturan-aturan penulisan (kaidah-kaidah) khusus yang ternyata mempunyai asrar
(rahasia-rahasia) yang menimbulkan kemukjizatan pada tulisan tersebut, hal
ini diperkuat oleh pendapat bahwa jumlah tulisan al-Qur’an-pun sudah tertentu,
tidak boleh kurang atau lebih, maka berkurang atau lebihnya huruf dalam
al-Qur’an akan menyebabkan berkurangnya nilai kemukjizatan dan orientasi
al-Qur’an.[4]
Ada dua ulama
yang terkenal dalam bidang rasm usmani ini ulama tersebut di juluki dengan
sebutan saihani karna karena mereka berdua ulama yang mempengarhi ilmu rasm
mushaf di seluruh dunia. Ulam yang terkenal pertamaAdani nama lengkapnya beliau
memiliki kaidah tersendiri dalam kontribusi rasm mushaf , sedangkan ulama yang
kedua adalah abau dawud beliau adalah
murid dari addani dalam ilmu rasm mushaf addani selain memiliki kontribusi tersendiri
dalam penulisan kaidah rasm mushaf tak
jarang juga di temukan kesamaan.
Mushaf
modern saat ini, seperti Mushaf Madinah Kerajaan Arab Saudi atau Mushaf Jamahiriyyah Libia,
rata-rata menganut kaidah penulisan keduanya.Dengan melakukan tarjih (kecenderungan
pemilihan dan penggunaan) salah satunya jika ditemukan perbedaan.Karenanya jika
pembaca sekalian menjumpai perbedaan tulisan dalam mushaf Alquran, yang bukan
dikarenakan kesalahan penulisan tentunya, bisa jadi hal itu disebabkan karena
perbedaan mazhab yang dianut. Sebagai contoh kata shirath dalam
Surat Al-Fatihah ayat 6 dan 7, jika menganut mazhab Abu Dawud sebagaimana
Mushaf Madinah, disana tertulis tanpa alif setelah huruf ra’.
Ini berbeda dengan Mushaf Libia yang menggunakan alif setelahnya.
Fenomena
kajian mushaf menarik banyak kalangan karena keunikanya dan aspek kesejarahanya
yang menarik untuk dikaji. Hal ini tidak dapat dipungkiri sebab beragama mushaf
yang kita temukan khususnya mushaf kuno terdiri
dari berbagai corak yang dilator belakangi oleh aspek sosial tempat
penulisanya.
Adapun makna dari Mukhtasar al-Tabyin li Hija’ al-Tanzil karya Abbu Daud
Sulaiman Bin Najah adalah ringkasan penjelasan tentang ejaan dalam al-Qur’an..maka dari latar belakang tersebut ditarik rumusan masalah
yaitu bagaimana analisis isi materi rasm mushaf dalam kitab al-Tabyin li Hija’
al-tamzil karya Abu Daud Sulaiman Bin Najah..
B.
Pembahasan
1.
Pengertian Analisis isi
materi rasm mushaf dalam Mukhtasar al-Tabyin li Hija’ al-Tanzil karya Abu Daud
sulaiman Bin Najah
Analisis
isi (content analiysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan
mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa.
Pelopor analisis isi adalah Harold
D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau
pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.[5]
Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), kata “analisis” diartikan sebagai penyelidikan
terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui
keadaan yang sebenarnya (sebab, musabah, duduk perkaranya, dan sebagainya).[6]
Menurut Muslich (dalam Jurnal Kata 2014, hlm.
3)[7]
dalam kelayakan isi, ada tiga indikator yang harus diperhatikan, yaitu
“kesesuaian uraian materi dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi Dasar
(KD) yang terdapat dalam mata pelajaran yang bersangkutan, keakuratan materi
dan materi pendukung pembelajaran”. Dari ketiga indikator tersebut kita dapat menilai
sejauh mana tingkat kelayakan isi materi dalam sebuah buku teks. Sehingga dapat
mengetahui kekurangan dan kelebihan dari buku teks yang akan digunakan sebagai
acuan dalam pembelajaran.
2.
Gambaran buku Mukhtasar
al-Tabyin li Hija’ al-Tanzil karya Abu Daud sulaiman Bin Najah
Buku Mukhtasar al-Tabyin li
Hija’ al-Tanzil dalah salu satu buku yang di karang oleh saihani ilmu rasm
yakni abu daud sulaiman bin najah. Abū
Dawūd
Sulaimān
bin Najāḥ
al-Andalusī
(w. 496 H/1102). Karya ini berhasil dipublikasikan atas jasa besar penyunting Aḥmad bin Aḥmad
bin Mu‘ammar
Syirsyāl
yang dicetak
dengan judul Mukhtaṣar at-Tabyīn li
Hijā‘ at-Tanzīl oleh
Mujamma‘ Malik Fahd, Madinah, Saudi Arabia, pada 1421 H/1999 dalam 5 jilid
besar dengan 1513 halaman.[8]
Pada tahun 2009 Jamāluddīn Muḥammad juga mempublikasi karya yang sama dengan
jumlah 2 jilid dan diterbitkan di Dār aṣ-Ṣaḥābah di Tanta, Mesir.
Karya
Ibnu Abū
Dawūd
ini cukup penting. Selain memberikan informasi tentang kronologis pembukuan
Al-Qur’an mulai masa awal, era Abu Bakar dan kodifikasi di masa Usman, ia juga
mengemukakan riwayat yang menginformasikan tentang mushaf-mushaf pribadi para
sahabat dan tabiin. Beberapa orientalis seringkali memanfaatkan informasi dari
kitab ini untuk mengkritik sejarah Al-Qur’an yang menurut mereka bermasalah
(Amal 2007: 365-366).
Karya
ini cukup menarik, dan banyak menjadi perhatian para sarjana Al-Qur’an di Timur
Tengah, walaupun versi cetaknya beredar belakangan. Hal ini dibuktikan, hampir
semua negara dalam menuliskan Al-Qur’an dengan rasm usmaninya mengacu pada
riwayat Abū
Dawūd
dibandingkan karya pendahulunya, ad-Dānī. Kelebihan karya ini yang menonjol adalah
sistem penulisannya yang detail berurutan per surah, mulai dari surah al-Fātiḥah sampai dengan an-Nās.
Sistem ini tentu lebih memudahkan para penulis Al-Qur’an dibandingkan pola
tematis yang dituliskan oleh ad-Dānī yang dituangkan dalam karya monumentalnya, al-Muqni‘.
Dalam buku ini terdiri dari
dua bab, bab pertama menjelaskan tentang era penulis dan kehidupan
penulis dimasa itu, kemudian riwayat penulis, garis keturunan penulis,
kelahiran dan kematian penulis, keluarga penulis, guru penulis, murid-murid
penulis dan buku-buku dari penulis itu sendiri sedangkan bab kedua masuk
kepada proses munculnya ilmu ejaan dan pengembangan ilmu rasm mushaf,
pengertian rasm mushaf, jenis-jenis khat arab dan manfaat dari Rasm alquran.
Focus penelitian ini adalah analisis isi materi rasm mushaf pada buku tersebut. Dalam buku ini membahas tentang pertumbuhan dan
perkembangan ilmu hijai masoif. Dimana dalam buku ini mencakup ringkasan penjelasan singkat tentang ejaan dalam
Al-Qur’an.
3.
Biografi Abu Dawud Sulaiman
Bin Najah
Nama
lengkapnya adalah Sulaiman bin Najah Abi al-Qasim al-Umawi. Sedangkan namakuniahnya
yaitu Abu Dawud. Beliau lahir dikota Daniyah (Spanyol) pada tahun 413 H/1103 M.
Beliau adalah pengikut setia daulah umayyah di Andalusia saat kekuasaan amirul
Mu’minin Muayyidu billah Hisyam bin Hamka. Beliau tinggal diantara kota Daniyah
Dan Balnasiyah. Daniyah sekarang dikenal dengan Denia Alicante atau Isbaniyah,
Spanyol.Sedangkan balnasiah sekrang dikenal dengan Valencia, spanyol.[9]
Tidak banyak riwayat yang melaporkan
tentang biografi murid ulama rasm ad-Dani ini.Menurut Ibnu bashwal, Abu Dawud
merupakan salah satu muqri’ yang terkenal mahir dalam ilmu qira’at dan
tariq-tariqnya dan di kenal tsiqah.
Guru-guru beliau adalah Umar bin Abdil Bar, Abu said bin Amar, Abi Abas
Al-Udriy, Abi Walid Al-Bajiy, Abi Abdillah bin Sadun al-Qarawi, Abi Syakir
Al-Khatib, Ibrahim bin Jamaah al-Bakri Ad-dani, Ahmad bin Sahun al-Mursi,
Ja’far bin Yahya bin Ghatal.
Menurut
para ulama beliau sangat ahli dalam disiplin ilmu al-Qur’an, sehingga tak
sedikit karya-karyanya. Di antara karya-karyanya yaitu muhtasar tabyi>n
li> hija>il tanzil, al-I’tima>d Fi> Ushuli Qira’ah Wadiyanah,
Al-Baya>n fi Ulum al-Qur’an, Ushulu Dabt wa Kaifiyatuhu ‘Ala> Wajhi
al-Ikhtisa>r, al-Baya>n al-jamil’ Ii> ‘Ulum Al-Qur’an dan
at-Tabyi>n Ii Hija’ al-Tanzil yang sekarang dikenal dengan
al-Masa>hi>f dalam bidang rasm Usmani. Beliau meninggal di Valencia pada
tanggal 16 ramadhan 496H/ 1102M.
Menurut Qadduri karya tersebut
(dalam bidang rasm usmani) disusun dengan berdasarkan surah dan banyak mengacu
pada karya guru beliau yaitu ad-Dani. Beliau mengunakan tiga sumber dalam menyusun karyanya,
pertama beliau banyak mengacu pada mushaf-mushaf lama yang
iakomparasikan dengan penjelasan ‘Asim al-jahdari, Yahya bin Haris al-Dhimmari,
Abu Ubaid al-Qasim, Abu Hatim Sahl bin Muhammd, Abu ‘Amar ad-Dani. Kedua,
berdasarkan riwayat yang dilaporkan Oleh Abd Rahman Bin Hurmuz al- A’raj
al-Madani, Nafi’ bin Abi Nu’aim al-Madani, Khalid bin Iyas, Ismail bin ja’far
al-Madani, Isa bin Mina Qalun, ‘Asim al-Jahdari. Sementara yang ketiga,
berdasarkan karya-karya dibidang kperbedaan mushaf yaitu karya Abdullah bin
Amir al-Yahsibi, Abu Amr bin A’la, Abu Hasan al-Kisa’I, al-Ghazi bin Qais.
4.
Analisi isi materi Rasm
mushaf dalam Buku al-Tabyin lii Hija’ al-Tanzil karya Abu Daud sulaiman Bin
Najah
a.
Pengertian rasm mushaf dan latar
belakang berkembangnya rasm mushaf
Secara bahasa kata Rasm berarti
bekas, tulisan,khath, zubur, dan raqm. Dan dibagi menjadi
dua macam, yaitu qiyasi dan istilahi. Rasm Qiyasi yang biasa
disebut juga dengan Rasm Imlai adalah peggambaran lafadz yang
menggunakan huruf hijaiyah, dengan tetap memperhatikan standarisasi ibtida’ dan
waqaf yang ada pada penulisan itu. Sedangkan yang dimaksud dengan Rasm
Istilahi, yang juga disebut sebagai Rasm Usmanii, adalah model
tulisan sahabat yang dipakai untuk menulis Musḥāf If Usmaniyah.[10]
Kata rasm ini juga
bisa diartikan sebagai sesuatu yang resmi atau menurut aturan.[11] Jadi rasm
berarti tulisan atau penulisan yang yang mempunyai metode tertentu. Adapun
yang dimaksut rasm dalam makala ini adalah pola penulisan Al-Qur’an yang
digunakan Usma bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan
al-Qur’an.
rasm
mushaf di sebut juga dengan rasm usmanai mengapa demikian, karena pada masa
kepemimpinan kalifah usman binn afwan memrintahkan untuk membuat mushaf
al-iman.[12]
Dan memebakar seluruh mushaf al-quran yang ada selaian mushaf aliman dengan
tujuan agar mushaf terjaga keaslianya, karena melihat pada jaman usman bin
affawn kekuasan islam telah daerah selain arab itu sendiri. Kemudian pola
penulisan tersebut dijadikan standart dalam penulisan kembali atau pengadaan
mushaf al-qur’an. Istilah rasm Usmani lahir bersamaan dengan lahirnya mushaf
Usman, yakni mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Zaid bin
Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al ‘Ash, dan Abdurrahman bin al-Harits.
Adapun yang dijadikan rujukan oleh Usman adalah Suhuf Abu Bakar, yang merupakan hasil pengumpulan
dari naskah-naskah para penulis wahyu Rasulullah SAW. Hal ini berarti rasm
Usmani tidak berbeda dengan rasm yang ditulis oleh para penulis wahyu
Rasulullah.
Rasm usmani adalah cara
penulisan kalimat-kalimat al-qur’an yang telah disetujui oleh khalifah usman
bin affan pada waktu penulisan mushaf. Adapun
ilmu rasm usmani adalah ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara Rasm
usmani dan kaidah rasm isṭilāḥī
(rasm biasa yang selalu memperhatikan kecocokan
antara tulisan dan ucapan).[13]
Beralih
dari definisi dasar kata rasm, dalam dirkusus ulumul Qur’an rasm dibahas lebih
luas dalam ilmu rasm. Ilmu rasm ini muncul dari sejarah panjang
mushaf Usmani yang mengakomodir seluruh pola tulisan dalam al-Qur’an. Secara
teoritis ilmu rasm merupakan ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf
al-Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan
lafadz-lafadznya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan. Adapun seperti yang
dikemukakan Badan Litbang, ilmu rasm Usmani ini didefinisikan sebagai ilmu
untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara rasm Usmani dan kaidah-kaidah rasm Qiyasi
atau Imla’i (rasm biasa yang selalu memperhatikan kecocokan antara
tulisan dan ucapan).[14]
Seperti yang pernah
disinggung sebelumnya tentang adanya macam-macam rasm, secara umum dari
spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat Arab, maka rasm dibagi menjadi tiga
macam:
1)
Rasm
Qiyasi, Yaitu
cara menuliskan kalimat sesuai dengan ucapannya dengan memperhatikan waktu
memulai dan berhenti pada kalimat tersebut. Kecuali nama huruf hija’iyyah,
seperti huruf (ق) tidak ditulis فاف tetepi dengan (ق) saja. Rasm ini disebut
juga rasm imla’i tau rasm istilahi.
2)
Rasm
‘Arudi yaitu, cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan
(timbangan) dalam sya’ir-sya’ir arab. Hal ini dilakukan untuk mengetahui “bahr”
nama macam sya’ir dari say’ir yang dimaksud, contohnya seperti: سدوله ارحي البحر كموخ وليل sepotong syair Imri’il Qais, jika ditulis akan
berbentuk: سدو أرخي رالبح ج كمووليلنلهو . hal
ini sesuai dengan bentuk waza ) مفاعيلن, فعولن, . (مفاعيلن, فعولن
3)
Rasm
Usmanai yaitu, Yakni cara penulisan al-Qur’an yang disepakati khalifah Usman bin
‘Affan pada waktu penulisan mushaf. Jika dibandingkan dengan dua rasm
sebelumnya, terlebih rasm Qiyasi, rasm Usmani memiliki perbedaan dari
beberapa segi.
b.
kontribusi Abu dawud dalam
rasm mushaf
Istilah syaikhana dalam ilmu
Qur’an diberikan kepada Abu ‘Amr Ad-Dany (w. 444 H) dan Abu Daud (w. 496 H).
keduanya dikenal sebagai Syakhani fi Rasm (dua pakar otoritatif dalam rasm)
Imam Rasm ini seringkali keduanya berbeda, meski keduanya memiliki relasi guru
murid. Misalnya dalam penulisan kata (Ashoorhi Ghisyaawah) Ad-Dany
menuliskannya dengan menetapkan (Itsbat) alif, sementara Abu Daud menuliskannya
dengan membuang alif.[15]
Jika terjadi perbedaan penulisan Al-Quran, maka ada yang mentarjihkan riwayat
Abu Daud sebagaimana pada mushaf yang diterbitkan di Saudi Arabia dengan nama
mushaf Nabawi. Sedangkan riwayat Ad-Dani dipakai di Libia yang menggunakan
Qiraat Nafi’ riwayat Qalun.
Kontribusi
Abu dawud dalam Rasm mushaf yaitu dengan mengunakan kaidah hazfu alif
pembuangan huruf karena banyak keterangan yang menyatakan bahwasanya ada kalanya
mushaf yang di tulis abu dawud sama dengan alquran yang di tulis addani dalam
banyak ayat terdapat pengilangan alif ketika melihat rujukan dari abu dawud.
Mushaf
utsmni ditulis mengunakan kaidah-kaidah tulisan tertentu yang berbeda dengan
kaidah imla’i, diantaranya yaitu:
1)
Kaidah hazf al-huruf (membuang
huruf). Kaidah ini selalu dikaitkan dengan isbat al-hurf (menetapkan
huruf). Macam kaidah membuang huruf, yaitu: a) hazf isyaroh membuang
huruf dengan tujuan menunjukan adanya huruf lain. Adantya pembuangan huruf alif
itu agar dua bacaan menjadi satu kata. b) hazf ikhtisar membuang huruf
dengan tujuan meringkas tulisan, seperti membuang alif pada setiap jama’
mudzakar salim, atau semisalnya jika huruf setelah alif bukanlah hamzah
atau tasydid. c) membuang alif pada kata tertentu saja,
seperti kata قالت mengantinya dengan قلت, kata
كانت
mengantikan kata كنت.[16] Huruf-huruf yang dibuang dalam penulisan rasm utsmani ada 5, yaitu alif,
waw, ya, la dan nun.[17]
2) Ziyadah
al-huruf (penambahan huruf). Yaitu pemberian tambahan huruf dalam suatu kata,
namun tidak mempengaruhi bacaan baik
ketika wasal maupun waqaf. Ziyadah seperti itu
dinamakan ziyadah dengan huruf haqiqi. Selain itu ada ziyadah
ghairu haqiqi, yaitu apabila tambahan huruf mempengaruhi pada bacaan ketika
waqaf. Ketika waqaf seluruh Imam Qiraat membacanya dengan isbat
al-alif. Huruf yang ditambahkan dalam kaidah ini yaitu, alif, ya, dan
waw.
3) hamzah (penulisan
hamzah). Ada empat pola penulisan hamzah dalam rasm utsmani, a)
terkadang ditulis menggunakan alif, أول b) terkadang
ditulis dengan menggunakan huruf waw, يؤمنون c)
terkadang
ditulis dalam huru ya, ملئكة dan
terkadang ditulis tanpa (hazf sirah) .بين
المرء
4) al-badl pada
disiplin ilmu rasm kaidah al-badl berkaitan dengan beberapa ketentuan
seperti, pergantian huruf dalam ilmu
rasm utsmani ada tiga macam, yaitu penulisan alif
yang berasal dari ya, penulisan, alif yang berasal dari waw, dan alif yang tidak
diketahui asalnya.
5) al-fasl
wa al-wasl. Kaidah
yang kelima ini sebenarnya berasal dari dua kaidah yaitu kaidah al-fasl (pemisahan
kata )dan kaidah al-wasl (penyambungan kata). ان لا- من ما- ان ما- عن من- عن ما- ان ما. al-wasl adalah penulisan kata
menyambung atau bersambung dengan kata sesudahnya. اينما- بئسما-
كيلا- عم- نعما- اما- فيم- ممن- ربما
6) Para
pakar studi ilmu-ilmu Alquran telah sepekat bahwa apabila terdapat kalimat yang
memiliki varian qira’ah yang berbeda, maka boleh dituliskan dengan pola
salah satunya selama bukan qira’ah shaddah.[18]
c. Analisi
ayat- ayat alquran dalam buku Mukhtasar al-Tabyin Li Hija’ al-Tanzil:
Analisis pertama al-quran
surah al baqarah ayat: 28
|
Kata سموت ditulis tanpa namun menambah alif berdiri yang asal
katanya سماء dan
jamanya berbentuk muannas سماوات, akan tetapi rasm abu dawud
menulis dengaan menghilangkan alif dan menganti menjadi alif kecil berdiri,
sesuai dengan apa yang tercantum dalam buku Mukhtasar al-Tabyin Li Hija’ al-Tanzil
dijelaskan bahwasanya setiap nama yang ajam harus di buang alifnya. Contoh
lain: kata ثمني
yang asalnya ثمانية.
Kata ثمنين
yang asal katanya ثمانين.
Kata ثمنية أيام
asalnya dari kata ثمانية أيام. Dan kata اليتمى
dari kata اليتامى .
|
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ
جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ
ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ ࣖ
|
Dalam
pembahsan lain di jelaskan bahwasanya mengapa di hazfu alif atau di buang
alifnya karena penulisan ini mengunakan khat arab kufi yang di ambil dari khat
suryani. Dalam khat suryani tidak lazim menulis alif di tengah-tengah kata,
penulis mushaf akan menghilangkan alif jika menulis mengunakan khat kufi.
Analisi kedua alquran
surah al-baqarah ayat 14:
|
Kata مستهزءون merupakan rasm usmani jika
rasm imlai menjadi berbeda tulisanya menjadi مستهزئون sama dengan kata rasm usmani menulis dengan
قرءان sedangkan dalam rasm imlai ditulis dengan قران .
|
وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا
ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا
نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ
|
Analisi Ketiga alquran
surah al-baqarah ayat: 21
|
Pada surah
al-baqarah ayat 21 terdapat kata يايها, merupakan salah satu dari 6
pembahasan yang telah di jelaskan sebelumnya bahwa ada penghapusan alif
ketika di dahului huruf nida. Untuk mengetahui adanya pembungan maka harus di
pisahkan antara huruf dengan huruf selanjutnya, contohnya: يا ايها .
|
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا
رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ
تَتَّقُوْنَۙ
|
Analisis ke empat surah al-baqarah ayat: 6
|
Pada surah
al-baqarah ayat 6 terdapat kata كفروا yang mana dalam kata itu salah
satu hurufnya bukan huruf asli, kata aslinya adalah كفرون
akan tetapi dalam buku rasm mushaf ini di jelaskan dengan kaidah menambahakn
alif setelah waw jamaah jadi. alif pada kata كفروا tersebut merupakan ziyadah.
|
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ
عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ
ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
|
Analisi ke lima surah
fatihah ayat: 5
|
Dalam suarah alfatiha اياك di tulis tanpa hamzah dan pada
rasm usmani di tulis dengan إياك
|
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ
نَسْتَعِيْنُۗ
|
Analisis ke enam
surah az-zumar ayat: 22
|
Setelah di analisis
kata متشابها dalam buku Mukhtasar ternyata memiliki
perbedaan. dalam penulisan dalam alquran cetakan Indonesia menggunakan alif
sedangkan dalam buku Mukhtasr dengan membuang salah satu huruf dari kata
tersebut yakni membuang alif kemudian
mengumpulakanya menjadi متسبها.
|
اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا
مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ
ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى
اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ
مِنْ هَادٍ
|
Analisis ke tujuh surah al-baqarah ayat: 11
|
Dalam kata قيل di tulis ي setelah uruf ق
Sesuai dengan yang di jelaskan dalam buku mukhtasr.
|
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا
فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ
|
Analisis ke delapan suarah al-baqarah ayat: 38
|
Kata هدي dalam suarah al-baqarah ayat
38 tertulis tanpa alif, jika kita bandingkan dengan penjelasan yang ada dalam
buku mukhtasr di tulis dengan menambah ا sebelum ي. Contoh lain: ada yang mengucapkan dengan هدي bertasdidi pada huruf ي, pada kata علي bertasdid di huruf ي dan ولدي
bertasdidi pada huruf ي.
|
قُلْنَا اهْبِطُوْا
مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ
تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ
|
Analisis ke Sembilan al-baqarah ayat: 101
|
Dalam ayat ini kata يعلمن membuang alif dan mengganti
alif dengan alif kecil yang di atas mim sedangkan setelah mim dalam buku
mukhtasr ditulis dengan huruf alif terletak setelah mim seperti: يعلمان
|
وَاتَّبَعُوْا مَا
تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ
الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ
عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ
مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ
فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ
ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ
وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا
لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ
مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
|
Analisi ke sepuluh surah albaqarah ayat: 40
|
Dalam kata ارءيتكم ini ada yang meng nisbatkan ا dan ada juga yang menghapus ا, terdapat perbedaan pendapat dalam penulisan alif
pada kata ini dalam buku mukhtasr di
tuliskan dengan kata أرأيتكم
|
قُلْ اَرَءَيْتَكُمْ اِنْ اَتٰىكُمْ عَذَابُ اللّٰهِ اَوْ اَتَتْكُمُ السَّاعَةُ اَغَيْرَ
اللّٰهِ تَدْعُوْنَۚ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ
|
Analisis ke sebelas surah al-qasas ayat 48
|
Pada kata سحرن dibuang alifnya di antara س dan ح, yang dalam buku mukhtasr alif
di antara huruf س dan ح masih ditulis dengan meletakan alif kecil di atas. Contohnya:
سحرن
|
فَلَمَّا جَاۤءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوْا لَوْلَآ اُوْتِيَ
مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ مُوْسٰىۗ اَوَلَمْ يَكْفُرُوْا بِمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى
مِنْ قَبْلُۚ قَالُوْا سِحْرٰنِ تَظٰهَرَاۗ وَقَالُوْٓا اِنَّا بِكُلٍّ كٰفِرُوْنَ
|
Analisis ke dua belas surah an-nahl ayat 16:
|
Kata وعلمت ditulis
dengan menghilangkan alif dan menggantinya dengan huruf alif kecil di atas
huruf lam dan di atas huruf mim, dalam buku mukhtasr di jelaskan bahwasanya
itu merujuk kepada mushaf-mushaf terdahulu kemudian di qiyaskan contoh lain: قنتت jadi hurufnya di hilangkan untuk menyingkat kata.
|
وَعَلٰمٰتٍۗ
وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُوْنَ
|
Analisi ke tiga belas surah al-araf ayat: 201
|
Terdapat perbedaan dalam ayat ini ada yang mengisbatkan alif dan ada
yang menghapus alif.
|
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ
الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ
|
Masih banyak lagi ayat-
ayat yang di hapuskan atau di buang huruf alifnya kata مشرق dalam riwayat addani tetap
di tulis dengan alif maka akan seperti
ini مشارق . contoh lain penghapusan terdapat pada طغينهمkata tersebut dalam riwayat addani terdapat ا setelah ي yang menunjukan tidak adanya pembuangan huruf pada
kata kata dalam alquran, dalam riwayat abu dawud di hilangkan ا setelah ي. Selain itu pada kata متع terdapat
pembuangan huruf alif yang pada mushaf lain di tulis dengan kata متاع.
Ayat
alquran yang sering dibaca kemudian di analisis memiliki perbedaan, perbedaan ini
terlihat dari segi tulisan hal ini bukan bagian dari kesalahan. karena dalam penulisan
mushaf di lakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan terutama ilmu
tulis-menulis dalam mushaf, seperti abu dawud memiliki kaidah tersendiri dalam
penulisan mushaf, tanpa harus mengikuti dengan sepenuhnya
Maka dari banyak di
temukan porbedaan antara satu mushaf dengan yang mushaf yang lain di pengaruhi
dari rujuakan mushaf itu, baik ada yang merujuk pada ulama rasm satu dengan
ulma rasm yang lain. Dengan belajar ilmu rasm ini akan menambah pengetahuan
mengenai kenapa di tulis dan kenapa di hilangkan, karna menghilangkan huruf
atau menambah huruf dalam mushaf ada kaidah tersendri yang harus di pelajari
dan harus difahami. Tanpa mempelajri dan memahi maka semua akan salah di mata
kita.
C.
Kesimpulan
1.
Secara bahasa kata Rasm berarti
bekas, tulisan, khath, zubur, dan raqm. Dan dibagi menjadi
dua macam, yaitu qiyasi dan istilahi. Rasm Qiyasi yang
biasa disebut juga dengan Rasm Imlai adalah peggambaran lafadz yang
menggunakan huruf hijaiyah, dengan tetap memperhatikan standarisasi ibtida’ dan
waqaf yang ada pada penulisan itu. Sedangkan yang dimaksud dengan Rasm
Istilahi, yang juga disebut sebagai Rasm Usmanii, adalah model
tulisan sahabat yang dipakai untuk menulis Musḥāf If
Usmaniyah.
2.
secara umum dari spesifikasi
cara penulisan kalimat-kalimat Arab, maka rasm dibagi menjadi tiga macam:
a.
Rasm
Qiyasi, Yaitu
cara menuliskan kalimat sesuai dengan ucapannya dengan memperhatikan waktu
memulai dan berhenti pada kalimat tersebut.
b.
Rasm
‘Arudi yaitu, cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan
(timbangan) dalam sya’ir-sya’ir arab.
c.
Rasm
Usmanai yaitu, Yakni cara penulisan al-Qur’an yang disepakati khalifah Usman bin
‘Affan pada waktu penulisan mushaf. Jika dibandingkan dengan dua rasm
sebelumnya, terlebih rasm Qiyasi, rasm Usmani memiliki perbedaan dari
beberapa segi.
3.
Mushaf utsmni ditulis
mengunakan kaidah-kaidah tulisan tertentu yang berbeda dengan kaidah imla’i,
diantaranya yaitu:
a.
Kaidah hazf al-huruf (membuang
huruf). Kaidah ini selalu dikaitkan dengan isbat al-hurf (menetapkan
huruf).
b.
Ziyadah al-huruf (penambahan
huruf). Yaitu pemberian tambahan huruf dalam suatu kata, namun tidak
mempengaruhi bacaan baik ketika wasal
maupun waqaf
c.
hamzah (penulisan
hamzah). Ada empat pola penulisan hamzah dalam rasm utsmani,
d.
al-badl pada
disiplin ilmu rasm kaidah al-badl berkaitan dengan beberapa ketentuan
seperti, pergantian huruf dalam ilmu
rasm utsmani
e.
al-fasl wa al-wasl. Kaidah
yang kelima ini sebenarnya berasal dari dua kaidah yaitu kaidah al-fasl (pemisahan
kata )dan kaidah al-wasl (penyambungan kata).
f.
memiliki varian qira’ah yang
berbeda, maka boleh dituliskan dengan pola salah satunya selama bukan qira’ah
shaddah.
Daftar Pustaka
Ana , Retnoningsih dan Suharso. 2009.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya.
Anwar, Muhammad Khoirul. "Rasm
Usmani Dan Metode Penulisannya (Telaah Kodifikasi Al-Quran dan Perkembangan
Rasm Usmani Dari Zaman Usman Hingga Sekarang)." Jurnal Ilmiah
Citra Ilmu 13.26 (2017): 149-157.
Arifin ,
Zaenal. 2013. Kajian Ilmu Rasm Utsmani dalam Al-Qur’an, Jurnal Suhuf. Vol.
6, No. 1 Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
As-Suyuti Jalaluddin.1999.al-itq>an fi>
Ulum al-Quran, Ed Khalid al-Attar. Beirut: Dar al Fikr.
Febrianingsih , Dian. 2016. Sejarah
Perkembangan Rasm Ustmani . H, Al-Murabbi Vol. 2, No. 2.
Hakim, Abdul. "Metode Kajian Rasm,
Qiraat, Wakaf dan Dabt pada Mushaf Kuno (Sebuah Pengantar)." SUHUF
Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya 11.1 (2018): 77-92.
Hakim, Abdul. "Perbandingan Rasm
Mushaf Standar Indonesia, Mushaf Pakistan, Dan Mushaf Madinah." SUHUF
Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya 10.2 (2017): 371-404.
https://www.dosenpendidikan.co.id/analisis-isi/#Pengertian_Analisis_Isi_Menu.
diakses pada jum’at, 27 maret 2020,
pukul 01:26.
Hula, Ibnu Rawandhy
N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab
dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Khalil , Moenawir.
1985. Al-Qur’an Dari Masa Kemasa.
Cet. IV. Soloh: CV Ramdani.
Kinanti, Lutfia Putri, and Sudirman
Sudirman. "Analisis kelayakan isi materi dari komponen materi pendukung
pembelajaran dalam buku teks mata pelajaran sosiologi kelas xi sma negeri di
kota bandung." SOSIETAS 7.1 (2017).
Madzkur, Zaenal Arifin. "Survei
Bibliografis Kajian Penulisan Al-Qur’an." Suhuf Jurnal Pengkajian
Al-Qur'an dan Budaya 12.1 (2019): 151-170.
Madzkur,
Zainal Arifin.2012. Mengenal Rasm Usmani: Sejarah, Kaidah dan Hukum
Penulisan al-Qur’an dengan Rasm Usmani, Lajnah Pentashih Mushaf AlQur‟an.
Jurnal Suhuf. Vol. 5, No. 1.
Samsukadi, Mochamad. "Sejarah
Mushaf'uthmani (Melacak Tranformasi Al-Qur'an Dari Teks Metafisik Sampai Textus
Receptus)." Religi: Jurnal Studi Islam 6.2 (2015):
237-262.
Sya’roni ,
Mazmur. 1999.Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf al-Qur‟an
dengan Rasm Usmani, (Jakarta: Badan Penelitian dan
Pengembangan Agama Puslitbang Lektur Agama.
[2] Muhammad Natsir, “mukjizat Rasm Al-qur’an (telaah
atas tulisan Mushaf Usmany)”, Skripsi, (Yogyakarta: Universitas Islam Negri
Sunan Kalijaga, 2008), h. 17.
[3] Dian Febrianingsih, Sejarah Perkembangan
Rasm UstmaniH, Al-Murabbi Vol. 2, No. 2, Januari 2016, h. 294.
[4] Muhammad Natsir, “mukjizat
Rasm Al-qur’an (telaah atas tulisan Mushaf Usmany)”, h. 15.
[5] https://www.dosenpendidikan.co.id/analisis-isi/#Pengertian_Analisis_Isi_Menu (diakses pada jum’at, 27 maret 2020, pukul 01:26)
[6]Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang:
Widya Karya, 2009), h. 37.
[7] Lutfia Putri Kinanti,dan
sudirman, Analisis Kelayakan Isi Materi Dari Komponen Materi Pendukung
Pembelajaran Dalam Buku Teks Mata Pelajaran Sosiologi Kelas Xi Sma Negeri Di
Kota Bandung Vol; 7, No. 1, Sosietas: Jawa Barat, 2017. hal. 342.
[8] Zainal Arifin, Survei Bibliografis Kajian Penulisan Al-Qur’an Studi
Literature Rasm Usmani Klasik Sampai Modern, Jurnal Suhuf, Vol. 12, No. 1, Juni
2019, h. 161.
[10] Muhammad Khoirul
Anwar, Rasm Usmani Dan Metode Penulisanya (Telaah Kodifikasi Al-Qur’an dan
Perkembangan Rasm Usmani Dari Zaman Usman Hingga Sekarang), Cita ilmu, Vol.
XIII, Oktober 2017, h. 153.
[11] Moenawir Khalil,
al-qur’an dari masa kemasa, cet. IV, (Soloh: CV Ramdani, 1985), h. 27-28.
[13] Abdul Hakim, Metoode
Kajian Rasm, Qiraat, Wakaf Dan Dabt Pada Mushaf Kuno, Suhuf, Jurna
Pengkajian al-Qur’an dan Budaya, Vol.
II, No. 1, Juni 2018, h. 81.
[14] Mazmur Sya‟roni, Pedoman Umum
Penulisan dan Pentashihan Mushaf al-Qur‟an dengan Rasm
Usmani, (Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Puslitbang Lektur Agama, 1998/1999), h.
10
[15] Zaenal arifin, Kajian
Ilmu Rasm Utsmani dalam Al-Qur’an, Jurnal Suhuf, Vol. 6, No. 1 (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2013), h. 8.
[16] Mochamad Samsukkadi,
sejarah mushaf utsmani (melacak tranformasi al-qur’an dari teks metafisik
sampai textus receptus), jurnal studi islam, Vol. 6, No. 2, Oktober 2015.
[17] Abdul Hakim, Perbandingan Rasm
Mushaf Standar Indonesia, Mushaf Pakistan danMushaf Madinah : Analisis Rasm
Kata Berkaidah Hazf al-Huruf. Jurnal Suhuf, Vol. 10, No. 2 (Jakarta: Lajnah
Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2017), h. 6.
[18] Chumairok Zahrotur Roudlah,
Rasm Dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur’an KH. Mas Hasan Masyruh, (Skripsi, UIN
Sunan Ampel Surabaya. 2019). h. 31.
Komentar
Posting Komentar