Al-Khat wa Qwaidul Imla


ANALISIS ISI MATERI RASM MUSHAF DALAM MUKHTASAR AL-TABYIN  LI HIJA’ AL-TANZIL KARYA ABU DAUD SULAIMAN BIN NAJAH

 Nur Asiyah1 Rofi Udin2
Jurusan Pendidikan Bahasa Arab FITK IAIN Sultan Amai Gorontalo

Abstrak:
Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang Analisis isi materi rasm mushaf dalam kitab Mukhtasar al-Tabyin Li Hija’ al-Tanzil karya Abu Daud Sulaiman Bin Najah. Dalam buku ini menjelaskan secara umum dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat Arab, diantaranya yaitu tulisan Rasm Qiyasi, Rasm ‘Arudi, Rasm Usmanai. Sampai pada akhirnya Tujuan dari artikel ini adalah agar mengetahui kontribusi Abu dawud dalam Rasm mushaf yaitu dengan mengunakan kaidah hazfu alif pembuangan huruf. Penelitian ini merupakan penelitian dengan pendekatan kualitatif, sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (Library Research), dimana data-data yang didapat berasal dari dokumen-dokumen yang relevan seperti buku, jurnal, kitab, artikel, dan tulisan-tulisan tertentu. Permasalahan yang diangkat yaitu bagaimana analisis isi materi rasm mushaf dalam kitab al-Tabyin li Hija’ al-tamzil karya Abu Daud Sulaiman Bin Najah. Adapun hasil penelitian ini menunjukan bahwa buku tersebut menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan ilmu hijai masoif. Dimana dalam buku ini mencakup ringkasan  penjelasan singkat tentang ejaan dalam Al-Qur’an, Dalam kitab ini lebih rasm ustmani ditulis menggunakan kaidah-kaidah tulisan tertentu, dianttaranya seperti Kaidah hazf al-huruf  (membuang huruf), Ziyadah al-huruf (penambahan huruf), hamzah (penulisan hamzah), al-badl, al-fasl wa al-wasl  (kaidah al-fasl (pemisahan kata , dan kaidah al-wasl  penyambungan kata), dan terakhir yaitu  varian qira’ah.
Kata  Kunci: Analisis, Rasm Mushaf, Mukhtasar
A.  Pendahuluan
Al-Qur’an sebagai wahyu terakhir yang turunkan kepada nabi Muhammad di maksutkan untuk menjadi petunjuk, bukan saja petunjuk bagi anggota masyarakat tempat kitab ini diturunkan, tetapi juga sebagai petunjuk bagi seluruh manusia yang ada di bumi hingga akhir zaman. Al-Qur’an juga merupakan salah satu sumber hukum islam yang menduduki peringkat teratas dari hadis ijma dan kias. Seluruh ayatnya berstatus qat’I al-Qurud yang diyakini eksistensinya sebagai wahyu dari Allah swt. Dengan demikian, autentitas serta orsanilitas al-Qur’an benar-benar dapat di pertanggung jawabkan, karena ia merupakan wahyu Allah baik dari segi lafadz maupun dari segi maknanya.
Sejak awal hingga akhir turunnya, seluruh ayat Al-Qur’an telah ditulis dan di dokumentasikan oleh para juru tulis wahyu yang ditunjuk oleh rasulullah saw.[1] Disamping itu seluruh ayat-ayat Al-Qur’an dinukilkan atau diriwayatkan secara mutawatir baik secara hafalan maupun tulisan. Al-Qur’an yang dimiliki umat Islam sekarang, ternyata telah mengalami proses sejarah yang cukup unik dalam upaya penulisan dan pembukuannya. Pada masa Nabi saw, Al-Qur’an belum ditulis dan dibukukan dalam satu mushaf.  Al-Qur’an baru ditulis pada kepingan-kepingan tulang’ pelepah-pelepah kurmna, dan batu-batu sesuai dengan kondisi peradaban masyarakat waktu itu yang belum mengenal adanya alat tulis menulis seperti kertas.Untuk mengfungsikan al-Qur’an dan memahami isi serta kandungan maka diperlukan suatu ilmu yang terkait.Salah satunya adalah ilmu Rasm Al-Qur’an. Tiada satu bacaan selain al-Qur’an yang dipelajari tata cara penulisanya baik dari segi persesuaian dan perbedaanya dengan penulisan masa kini, sampai kepada mencari rahasia mengapa kata yang sama ditulis berbeda.[2]
Ilmu rasm Al-Qur’an yaitu ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushat Al- Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafal-lafalnya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakannya. Penulisa Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad Saw. Dilakukan oleh para sahabat- sahabatnya baik dalam penulisannya maupun urutannya dengan tujuan untuk menyatukan kaum muslimin pada satu macam mushab dengan meyeragamkan bacaan serta menyatukan tertip susunan ayat-ayatnya. Dengan demikian tidak terjadi perbedaan pemahaman antara mushaf dengan mushaf lain.
Seorang orientalis bernama Noeldeke dalam bukunya, Tarikh Al-Quran, menolak keabsahan huruf-huruf pembuka dalam banyak surat Al-Quran denganklaim bahwa itu hanyalah simbol-simbol dalam beberapa teks mushaf yang ada pada kaum muslimin generasi awal dulu, seperti yang ada pada teks mushhaf Utsmani. Ia berkata bahwa huruf mim adalah simbol untuk mushaf al-Mughirah, huruf Ha adalah simbol untuk mushaf Abu Hurairah. Nun untuk mushaf Utsman. Menurutnya, simbol-simbol itu secara tidak sengaja dibiarkan pada mushaf-mushaf tersebut sehngga akhirnya terus melekat pada mushaf Al-Quran dan menjadi bagian dari Al-Quran hingga kini.[3]
Rasmul Al-Qur’an dikenal juga dengan nama Rasm Utsmani. Tulisan Al-Quran „Utsmani adalah tulisan yang dinisbatkan kepada Sayyidina Utsman Ra. (Khalifah ke III). Istilah ini muncul setelah rampungnya penyalinan Al-Quran yang dilakukan oleh tim yang dibentuk oleh Ustman  pada tahun 25 H., oleh para ulama. Cara penulisan ini biasanya di istilahkan dengan “Rasmul „Utsmani‟ yang kemudian dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ustman Ra. Para Ulama berbeda pendapat tentang penulisan ini, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa tulisan tersebut bersifat taufiqi (ketetapan langsung dari Rasulullah). Mereka berlandaskan riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah menerangkan kepada salah satu Kuttab (juru tulis wahyu) yaitu Mu‟awiyah  tentang tatacara penulisan wahyu. Diantara ulama yang berpegang teguh pada pendapat ini adalah Ibnul al-Mubarak dalam kitabnya “al-Ibriz” yang menukil perkataan gurunya, Abdul „Aziz al-Dibagh bahwa “tulisan yang terdapat pada Rasm „Utsmani semuanya memiliki rahasia-rahasia dan tidak ada satupun sahabat yang memiliki andil. Seperti halnya diketahui bahwa Al-Quran adalah mu‟jizat begitupula tulisannya.
Rasm  al-Qur’an pada mushaf usman yang memiliki aturan-aturan penulisan (kaidah-kaidah) khusus yang ternyata mempunyai asrar (rahasia-rahasia) yang menimbulkan kemukjizatan pada tulisan tersebut, hal ini diperkuat oleh pendapat bahwa jumlah tulisan al-Qur’an-pun sudah tertentu, tidak boleh kurang atau lebih, maka berkurang atau lebihnya huruf dalam al-Qur’an akan menyebabkan berkurangnya nilai kemukjizatan dan orientasi al-Qur’an.[4]
Ada dua ulama yang terkenal dalam bidang rasm usmani ini ulama tersebut di juluki dengan sebutan saihani karna karena mereka berdua ulama yang mempengarhi ilmu rasm mushaf di seluruh dunia. Ulam yang terkenal pertamaAdani nama lengkapnya beliau memiliki kaidah tersendiri dalam kontribusi rasm mushaf , sedangkan ulama yang kedua adalah abau dawud  beliau adalah murid dari addani dalam ilmu rasm mushaf addani selain memiliki kontribusi tersendiri dalam penulisan  kaidah rasm mushaf tak jarang juga di temukan kesamaan.
Mushaf modern saat ini, seperti Mushaf Madinah Kerajaan Arab Saudi atau Mushaf Jamahiriyyah Libia, rata-rata menganut kaidah penulisan keduanya.Dengan melakukan tarjih (kecenderungan pemilihan dan penggunaan) salah satunya jika ditemukan perbedaan.Karenanya jika pembaca sekalian menjumpai perbedaan tulisan dalam mushaf Alquran, yang bukan dikarenakan kesalahan penulisan tentunya, bisa jadi hal itu disebabkan karena perbedaan mazhab yang dianut. Sebagai contoh kata shirath dalam Surat Al-Fatihah ayat 6 dan 7, jika menganut mazhab Abu Dawud sebagaimana Mushaf Madinah, disana tertulis tanpa alif setelah huruf ra’. Ini berbeda dengan Mushaf Libia yang menggunakan alif setelahnya.
Fenomena kajian mushaf menarik banyak kalangan karena keunikanya dan aspek kesejarahanya yang menarik untuk dikaji. Hal ini tidak dapat dipungkiri sebab beragama mushaf yang kita temukan khususnya mushaf kuno terdiri  dari berbagai corak yang dilator belakangi oleh aspek sosial tempat penulisanya.
Adapun makna dari Mukhtasar al-Tabyin li Hija’ al-Tanzil karya Abbu Daud Sulaiman Bin Najah adalah ringkasan penjelasan tentang ejaan dalam al-Qur’an..maka dari latar belakang tersebut ditarik rumusan masalah yaitu bagaimana analisis isi materi rasm mushaf dalam kitab al-Tabyin li Hija’ al-tamzil karya Abu Daud Sulaiman Bin Najah..
B.   Pembahasan
1.    Pengertian Analisis isi materi rasm mushaf dalam Mukhtasar al-Tabyin li Hija’ al-Tanzil karya Abu Daud sulaiman Bin Najah

Analisis isi (content analiysis) adalah penelitian yang bersifat pembahasan mendalam terhadap isi suatu informasi tertulis atau tercetak dalam media massa. Pelopor analisis isi adalah Harold D. Lasswell, yang memelopori teknik symbol coding, yaitu mencatat lambang atau pesan secara sistematis, kemudian diberi interpretasi.[5]
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “analisis” diartikan sebagai penyelidikan terhadap suatu peristiwa (karangan, perbuatan, dan sebagainya) untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya (sebab, musabah, duduk perkaranya, dan sebagainya).[6]
Menurut Muslich (dalam Jurnal Kata 2014, hlm. 3)[7] dalam kelayakan isi, ada tiga indikator yang harus diperhatikan, yaitu “kesesuaian uraian materi dengan standar kompetensi (SK) dan kompetensi Dasar (KD) yang terdapat dalam mata pelajaran yang bersangkutan, keakuratan materi dan materi pendukung pembelajaran”. Dari ketiga indikator tersebut kita dapat menilai sejauh mana tingkat kelayakan isi materi dalam sebuah buku teks. Sehingga dapat mengetahui kekurangan dan kelebihan dari buku teks yang akan digunakan sebagai acuan dalam pembelajaran.
2.    Gambaran buku Mukhtasar al-Tabyin li Hija’ al-Tanzil karya Abu Daud sulaiman Bin Najah
Buku Mukhtasar al-Tabyin li Hija’ al-Tanzil dalah salu satu buku yang di karang oleh saihani ilmu rasm yakni abu daud sulaiman bin najah. Abū Dawūd Sulaimān bin Najā al-Andalusī (w. 496 H/1102). Karya ini berhasil dipublikasikan atas jasa besar penyunting Amad bin Amad bin Mu‘ammar Syirsyāl yang dicetak dengan judul Mukhtaar at-Tabyīn li Hijāat-Tanzīl oleh Mujamma‘ Malik Fahd, Madinah, Saudi Arabia, pada 1421 H/1999 dalam 5 jilid besar dengan 1513 halaman.[8] Pada tahun 2009 Jamāluddīn Muammad juga mempublikasi karya yang sama dengan jumlah 2 jilid dan diterbitkan di Dār a-aḥābah di Tanta, Mesir.
Karya Ibnu Abū Dawūd ini cukup penting. Selain memberikan informasi tentang kronologis pembukuan Al-Qur’an mulai masa awal, era Abu Bakar dan kodifikasi di masa Usman, ia juga mengemukakan riwayat yang menginformasikan tentang mushaf-mushaf pribadi para sahabat dan tabiin. Beberapa orientalis seringkali memanfaatkan informasi dari kitab ini untuk mengkritik sejarah Al-Qur’an yang menurut mereka bermasalah (Amal 2007: 365-366).
Karya ini cukup menarik, dan banyak menjadi perhatian para sarjana Al-Qur’an di Timur Tengah, walaupun versi cetaknya beredar belakangan. Hal ini dibuktikan, hampir semua negara dalam menuliskan Al-Qur’an dengan rasm usmaninya mengacu pada riwayat Abū Dawūd dibandingkan karya pendahulunya, ad-Dānī. Kelebihan karya ini yang menonjol adalah sistem penulisannya yang detail berurutan per surah, mulai dari surah al-Fātiah sampai dengan an-Nās. Sistem ini tentu lebih memudahkan para penulis Al-Qur’an dibandingkan pola tematis yang dituliskan oleh ad-Dānī yang dituangkan dalam karya monumentalnya, al-Muqni‘.
Dalam buku ini terdiri dari dua bab, bab pertama menjelaskan tentang era penulis dan kehidupan penulis dimasa itu, kemudian riwayat penulis, garis keturunan penulis, kelahiran dan kematian penulis, keluarga penulis, guru penulis, murid-murid penulis dan buku-buku dari penulis itu sendiri sedangkan bab kedua masuk kepada proses munculnya ilmu ejaan dan pengembangan ilmu rasm mushaf, pengertian rasm mushaf, jenis-jenis khat arab dan manfaat dari Rasm alquran. Focus penelitian ini adalah analisis isi materi rasm mushaf pada buku tersebut. Dalam buku ini membahas tentang pertumbuhan dan perkembangan ilmu hijai masoif. Dimana dalam buku ini mencakup ringkasan  penjelasan singkat tentang ejaan dalam Al-Qur’an.
3.    Biografi Abu Dawud Sulaiman Bin Najah
Nama lengkapnya adalah Sulaiman bin Najah Abi al-Qasim al-Umawi. Sedangkan namakuniahnya yaitu Abu Dawud. Beliau lahir dikota Daniyah (Spanyol) pada tahun 413 H/1103 M. Beliau adalah pengikut setia daulah umayyah di Andalusia saat kekuasaan amirul Mu’minin Muayyidu billah Hisyam bin Hamka. Beliau tinggal diantara kota Daniyah Dan Balnasiyah. Daniyah sekarang dikenal dengan Denia Alicante atau Isbaniyah, Spanyol.Sedangkan balnasiah sekrang dikenal dengan Valencia, spanyol.[9]
            Tidak banyak riwayat yang melaporkan tentang biografi murid ulama rasm ad-Dani ini.Menurut Ibnu bashwal, Abu Dawud merupakan salah satu muqri’ yang terkenal mahir dalam ilmu qira’at dan tariq-tariqnya dan di kenal tsiqah.  Guru-guru beliau adalah Umar bin Abdil Bar, Abu said bin Amar, Abi Abas Al-Udriy, Abi Walid Al-Bajiy, Abi Abdillah bin Sadun al-Qarawi, Abi Syakir Al-Khatib, Ibrahim bin Jamaah al-Bakri Ad-dani, Ahmad bin Sahun al-Mursi, Ja’far bin Yahya bin Ghatal.
            Menurut para ulama beliau sangat ahli dalam disiplin ilmu al-Qur’an, sehingga tak sedikit karya-karyanya. Di antara karya-karyanya yaitu muhtasar tabyi>n li> hija>il tanzil, al-I’tima>d Fi> Ushuli Qira’ah Wadiyanah, Al-Baya>n fi Ulum al-Qur’an, Ushulu Dabt wa Kaifiyatuhu ‘Ala> Wajhi al-Ikhtisa>r, al-Baya>n al-jamil’ Ii> ‘Ulum Al-Qur’an dan at-Tabyi>n Ii Hija’ al-Tanzil yang sekarang dikenal dengan al-Masa>hi>f dalam bidang rasm Usmani. Beliau meninggal di Valencia pada tanggal 16 ramadhan 496H/ 1102M.
            Menurut Qadduri karya tersebut (dalam bidang rasm usmani) disusun dengan berdasarkan surah dan banyak mengacu pada karya guru beliau yaitu ad-Dani. Beliau mengunakan tiga  sumber dalam menyusun karyanya, pertama beliau banyak mengacu pada mushaf-mushaf lama yang iakomparasikan dengan penjelasan ‘Asim al-jahdari, Yahya bin Haris al-Dhimmari, Abu Ubaid al-Qasim, Abu Hatim Sahl bin Muhammd, Abu ‘Amar ad-Dani. Kedua, berdasarkan riwayat yang dilaporkan Oleh Abd Rahman Bin Hurmuz al- A’raj al-Madani, Nafi’ bin Abi Nu’aim al-Madani, Khalid bin Iyas, Ismail bin ja’far al-Madani, Isa bin Mina Qalun, ‘Asim al-Jahdari. Sementara yang ketiga, berdasarkan karya-karya dibidang kperbedaan mushaf yaitu karya Abdullah bin Amir al-Yahsibi, Abu Amr bin A’la, Abu Hasan al-Kisa’I, al-Ghazi bin Qais.

4.    Analisi isi materi Rasm mushaf dalam Buku al-Tabyin lii Hija’ al-Tanzil karya Abu Daud sulaiman Bin Najah

a.       Pengertian rasm mushaf dan latar belakang berkembangnya rasm mushaf
Secara bahasa kata Rasm berarti bekas, tulisan,khath, zubur, dan raqm. Dan dibagi menjadi dua macam, yaitu qiyasi dan istilahi. Rasm Qiyasi yang biasa disebut juga dengan Rasm Imlai adalah peggambaran lafadz yang menggunakan huruf hijaiyah, dengan tetap memperhatikan standarisasi ibtida’ dan waqaf yang ada pada penulisan itu. Sedangkan yang dimaksud dengan Rasm Istilahi, yang juga disebut sebagai Rasm Usmanii, adalah model tulisan sahabat yang dipakai untuk menulis Musāf If Usmaniyah.[10]
Kata rasm ini juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang resmi atau menurut aturan.[11] Jadi rasm berarti tulisan atau penulisan yang yang mempunyai metode tertentu. Adapun yang dimaksut rasm dalam makala ini adalah pola penulisan Al-Qur’an yang digunakan Usma bin Affan dan sahabat-sahabatnya ketika menulis dan membukukan al-Qur’an.
rasm mushaf di sebut juga dengan rasm usmanai mengapa demikian, karena pada masa kepemimpinan kalifah usman binn afwan memrintahkan untuk membuat mushaf al-iman.[12] Dan memebakar seluruh mushaf al-quran yang ada selaian mushaf aliman dengan tujuan agar mushaf terjaga keaslianya, karena melihat pada jaman usman bin affawn kekuasan islam telah daerah selain arab itu sendiri. Kemudian pola penulisan tersebut dijadikan standart dalam penulisan kembali atau pengadaan mushaf al-qur’an. Istilah rasm Usmani lahir bersamaan dengan lahirnya mushaf Usman, yakni mushaf yang ditulis oleh panitia empat yang terdiri dari Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id bin Al ‘Ash, dan Abdurrahman bin al-Harits. Adapun yang dijadikan rujukan oleh Usman adalah Suhuf  Abu Bakar, yang merupakan hasil pengumpulan dari naskah-naskah para penulis wahyu Rasulullah SAW. Hal ini berarti rasm Usmani tidak berbeda dengan rasm yang ditulis oleh para penulis wahyu Rasulullah.
Rasm usmani adalah cara penulisan kalimat-kalimat al-qur’an yang telah disetujui oleh khalifah usman bin affan pada waktu penulisan mushaf. Adapun ilmu rasm usmani adalah ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara Rasm usmani dan kaidah rasm isilāī (rasm biasa yang selalu memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan).[13] 

Beralih dari definisi dasar kata rasm, dalam dirkusus ulumul Qur’an rasm dibahas lebih luas dalam ilmu rasm. Ilmu rasm ini muncul dari sejarah panjang mushaf Usmani yang mengakomodir seluruh pola tulisan dalam al-Qur’an. Secara teoritis ilmu rasm merupakan ilmu yang mempelajari tentang penulisan mushaf al-Qur’an yang dilakukan dengan cara khusus, baik dalam penulisan lafadz-lafadznya maupun bentuk-bentuk huruf yang digunakan. Adapun seperti yang dikemukakan Badan Litbang, ilmu rasm Usmani ini didefinisikan sebagai ilmu untuk mengetahui segi-segi perbedaan antara rasm Usmani dan kaidah-kaidah rasm Qiyasi atau Imla’i (rasm biasa yang selalu memperhatikan kecocokan antara tulisan dan ucapan).[14]
Seperti yang pernah disinggung sebelumnya tentang adanya macam-macam rasm, secara umum dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat Arab, maka rasm dibagi menjadi tiga macam:
1)      Rasm Qiyasi, Yaitu cara menuliskan kalimat sesuai dengan ucapannya dengan memperhatikan waktu memulai dan berhenti pada kalimat tersebut. Kecuali nama huruf hija’iyyah, seperti huruf (ق) tidak ditulis فاف tetepi dengan (ق) saja. Rasm ini disebut juga rasm imla’i tau rasm istilahi.
2)      Rasm ‘Arudi yaitu, cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan (timbangan) dalam sya’ir-sya’ir arab. Hal ini dilakukan untuk mengetahui “bahr” nama macam sya’ir dari say’ir yang dimaksud, contohnya seperti: سدوله ارحي البحر كموخ وليل sepotong syair Imri’il Qais, jika ditulis akan berbentuk:  سدو أرخي رالبح ج كمووليلنلهو . hal ini sesuai dengan bentuk waza )  مفاعيلن, فعولن,   . (مفاعيلن, فعولن
3)      Rasm Usmanai yaitu, Yakni cara penulisan al-Qur’an yang disepakati khalifah Usman bin ‘Affan pada waktu penulisan mushaf. Jika dibandingkan dengan dua rasm sebelumnya, terlebih rasm Qiyasi, rasm Usmani memiliki perbedaan dari beberapa segi.

b.      kontribusi Abu dawud dalam rasm mushaf
Istilah syaikhana dalam ilmu Qur’an diberikan kepada Abu ‘Amr Ad-Dany (w. 444 H) dan Abu Daud (w. 496 H). keduanya dikenal sebagai Syakhani fi Rasm (dua pakar otoritatif dalam rasm) Imam Rasm ini seringkali keduanya berbeda, meski keduanya memiliki relasi guru murid. Misalnya dalam penulisan kata (Ashoorhi Ghisyaawah) Ad-Dany menuliskannya dengan menetapkan (Itsbat) alif, sementara Abu Daud menuliskannya dengan membuang alif.[15] Jika terjadi perbedaan penulisan Al-Quran, maka ada yang mentarjihkan riwayat Abu Daud sebagaimana pada mushaf yang diterbitkan di Saudi Arabia dengan nama mushaf Nabawi. Sedangkan riwayat Ad-Dani dipakai di Libia yang menggunakan Qiraat Nafi’ riwayat Qalun.
Kontribusi Abu dawud dalam Rasm mushaf yaitu dengan mengunakan kaidah hazfu alif pembuangan huruf karena banyak keterangan yang menyatakan bahwasanya ada kalanya mushaf yang di tulis abu dawud sama dengan alquran yang di tulis addani dalam banyak ayat terdapat pengilangan alif ketika melihat rujukan dari abu dawud.
Mushaf utsmni ditulis mengunakan kaidah-kaidah tulisan tertentu yang berbeda dengan kaidah imla’i, diantaranya yaitu:
1)      Kaidah hazf al-huruf (membuang huruf). Kaidah ini selalu dikaitkan dengan isbat al-hurf (menetapkan huruf). Macam kaidah membuang huruf, yaitu: a) hazf isyaroh membuang huruf dengan tujuan menunjukan adanya huruf lain. Adantya pembuangan huruf alif itu agar dua bacaan menjadi satu kata. b) hazf ikhtisar membuang huruf dengan tujuan meringkas tulisan, seperti membuang alif pada setiap jama’ mudzakar salim, atau semisalnya jika huruf setelah alif bukanlah hamzah atau tasydid. c) membuang alif pada kata tertentu saja, seperti kata قالت mengantinya dengan قلت,  kata  كانت mengantikan kata كنت.[16] Huruf-huruf yang dibuang dalam penulisan rasm utsmani ada 5, yaitu alif, waw, ya, la dan nun.[17]
2)      Ziyadah al-huruf (penambahan huruf). Yaitu pemberian tambahan huruf dalam suatu kata, namun tidak mempengaruhi bacaan baik  ketika wasal maupun waqaf. Ziyadah seperti itu dinamakan ziyadah dengan huruf haqiqi. Selain itu ada ziyadah ghairu haqiqi, yaitu apabila tambahan huruf mempengaruhi pada bacaan ketika waqaf. Ketika waqaf seluruh Imam Qiraat membacanya dengan isbat al-alif. Huruf yang ditambahkan dalam kaidah ini yaitu, alif, ya, dan waw.
3)      hamzah (penulisan hamzah). Ada empat pola penulisan hamzah dalam rasm utsmani, a) terkadang ditulis menggunakan alif,  أول b) terkadang ditulis dengan menggunakan huruf waw, يؤمنون c) terkadang ditulis dalam huru ya, ملئكة dan terkadang ditulis tanpa (hazf sirah)  .بين المرء
4)      al-badl pada disiplin ilmu rasm kaidah al-badl berkaitan dengan beberapa ketentuan seperti,  pergantian huruf dalam ilmu rasm utsmani ada tiga macam, yaitu penulisan alif yang berasal dari ya, penulisan, alif yang berasal dari waw, dan alif yang tidak diketahui asalnya.
5)      al-fasl wa al-wasl. Kaidah yang kelima ini sebenarnya berasal dari dua kaidah yaitu kaidah al-fasl (pemisahan kata )dan kaidah al-wasl (penyambungan kata). ان لا- من ما- ان ما- عن من- عن ما- ان ما. al-wasl adalah penulisan kata menyambung atau bersambung dengan kata sesudahnya. اينما- بئسما- كيلا- عم- نعما- اما- فيم- ممن-   ربما
6)      Para pakar studi ilmu-ilmu Alquran telah sepekat bahwa apabila terdapat kalimat yang memiliki varian qira’ah yang berbeda, maka boleh dituliskan dengan pola salah satunya selama bukan qira’ah shaddah.[18]

c.       Analisi ayat- ayat alquran dalam buku Mukhtasar al-Tabyin Li Hija’ al-Tanzil:

Analisis pertama al-quran surah al baqarah ayat: 28
Kata سموت ditulis tanpa namun menambah alif berdiri yang asal katanya سماء dan jamanya berbentuk muannas سماوات, akan tetapi rasm abu dawud menulis dengaan menghilangkan alif dan menganti menjadi alif kecil berdiri, sesuai dengan apa yang tercantum dalam buku Mukhtasar al-Tabyin Li Hija’ al-Tanzil dijelaskan bahwasanya setiap nama yang ajam harus di buang alifnya. Contoh lain: kata ثمني yang asalnya  ثمانية. Kata ثمنين yang asal katanya ثمانين. Kata ثمنية أيام asalnya dari kata ثمانية أيام. Dan kata اليتمى dari kata اليتامى .
هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ



Dalam pembahsan lain di jelaskan bahwasanya mengapa di hazfu alif atau di buang alifnya karena penulisan ini mengunakan khat arab kufi yang di ambil dari khat suryani. Dalam khat suryani tidak lazim menulis alif di tengah-tengah kata, penulis mushaf akan menghilangkan alif jika menulis mengunakan khat kufi.

Analisi kedua alquran surah al-baqarah ayat 14:
Kata مستهزءون merupakan rasm usmani jika rasm imlai menjadi berbeda tulisanya menjadi مستهزئون  sama dengan kata rasm usmani menulis dengan قرءان sedangkan dalam rasm imlai ditulis dengan قران .
وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ


Analisi Ketiga alquran surah al-baqarah ayat: 21
Pada surah al-baqarah ayat 21 terdapat kata يايها, merupakan salah satu dari 6 pembahasan yang telah di jelaskan sebelumnya bahwa ada penghapusan alif ketika di dahului huruf nida. Untuk mengetahui adanya pembungan maka harus di pisahkan antara huruf dengan huruf selanjutnya, contohnya: يا ايها  .
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ


 Analisis ke empat surah al-baqarah ayat: 6
Pada surah al-baqarah ayat 6 terdapat kata كفروا yang mana dalam kata itu salah satu hurufnya bukan huruf asli, kata aslinya adalah كفرون akan tetapi dalam buku rasm mushaf ini di jelaskan dengan kaidah menambahakn alif setelah waw jamaah jadi. alif pada kata كفروا tersebut merupakan ziyadah.
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ
اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَاۤءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

Analisi ke lima surah fatihah ayat: 5
Dalam suarah alfatiha اياك di tulis tanpa hamzah dan pada rasm usmani di tulis dengan إياك  
اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُۗ


Analisis ke enam surah az-zumar ayat: 22
Setelah di analisis kata متشابها dalam buku Mukhtasar ternyata memiliki perbedaan. dalam penulisan dalam alquran cetakan Indonesia menggunakan alif sedangkan dalam buku Mukhtasr dengan membuang salah satu huruf dari kata tersebut yakni membuang alif  kemudian mengumpulakanya menjadi متسبها.
اَللّٰهُ نَزَّلَ اَحْسَنَ الْحَدِيْثِ كِتٰبًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَۙ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُوْدُ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ۚ ثُمَّ تَلِيْنُ جُلُوْدُهُمْ وَقُلُوْبُهُمْ اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُدَى اللّٰهِ يَهْدِيْ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗوَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ هَادٍ

   
Analisis  ke tujuh surah al-baqarah ayat: 11
Dalam kata قيل di tulis ي  setelah uruf ق
Sesuai dengan yang di jelaskan dalam buku mukhtasr.
وَاِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِۙ قَالُوْٓا اِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُوْنَ

  
Analisis ke delapan suarah al-baqarah ayat: 38
Kata هدي dalam suarah al-baqarah ayat 38 tertulis tanpa alif, jika kita bandingkan dengan penjelasan yang ada dalam buku mukhtasr di tulis dengan menambah ا sebelum ي. Contoh lain: ada yang mengucapkan dengan هدي  bertasdidi pada huruf ي, pada kata علي bertasdid di huruf ي dan ولدي bertasdidi pada huruf ي.
قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا ۚ فَاِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِّنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ


Analisis ke Sembilan al-baqarah ayat: 101
Dalam ayat ini kata يعلمن membuang alif dan mengganti alif dengan alif kecil yang di atas mim sedangkan setelah mim dalam buku mukhtasr ditulis dengan huruf alif terletak setelah mim seperti: يعلمان
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ


Analisi ke sepuluh surah albaqarah ayat: 40
Dalam kata ارءيتكم ini ada yang meng nisbatkan ا dan ada juga yang menghapus ا, terdapat perbedaan pendapat dalam penulisan alif pada kata ini dalam buku mukhtasr  di tuliskan dengan kata أرأيتكم
قُلْ اَرَءَيْتَكُمْ اِنْ اَتٰىكُمْ عَذَابُ اللّٰهِ اَوْ اَتَتْكُمُ السَّاعَةُ اَغَيْرَ اللّٰهِ تَدْعُوْنَۚ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ


Analisis ke sebelas surah al-qasas ayat 48
Pada kata سحرن dibuang alifnya di antara س dan ح, yang dalam buku mukhtasr alif di antara huruf س dan ح masih ditulis dengan meletakan alif kecil di atas. Contohnya: سحرن
فَلَمَّا جَاۤءَهُمُ الْحَقُّ مِنْ عِنْدِنَا قَالُوْا لَوْلَآ اُوْتِيَ مِثْلَ مَآ اُوْتِيَ مُوْسٰىۗ اَوَلَمْ يَكْفُرُوْا بِمَآ اُوْتِيَ مُوْسٰى مِنْ قَبْلُۚ قَالُوْا سِحْرٰنِ تَظٰهَرَاۗ وَقَالُوْٓا اِنَّا بِكُلٍّ كٰفِرُوْنَ



Analisis ke dua belas surah an-nahl ayat 16:
Kata وعلمت ditulis dengan menghilangkan alif dan menggantinya dengan huruf alif kecil di atas huruf lam dan di atas huruf mim, dalam buku mukhtasr di jelaskan bahwasanya itu merujuk kepada mushaf-mushaf terdahulu kemudian di qiyaskan contoh lain: قنتت jadi hurufnya di hilangkan untuk menyingkat kata.
وَعَلٰمٰتٍۗ وَبِالنَّجْمِ هُمْ يَهْتَدُوْنَ


Analisi ke tiga belas surah al-araf ayat: 201
Terdapat perbedaan dalam ayat ini ada yang mengisbatkan alif dan ada yang menghapus alif.
اِنَّ الَّذِيْنَ اتَّقَوْا اِذَا مَسَّهُمْ طٰۤىِٕفٌ مِّنَ الشَّيْطٰنِ تَذَكَّرُوْا فَاِذَا هُمْ مُّبْصِرُوْنَۚ


            Masih banyak lagi ayat- ayat yang di hapuskan atau di buang huruf alifnya kata مشرق  dalam riwayat addani tetap di tulis  dengan alif maka akan seperti ini مشارق . contoh lain penghapusan terdapat pada    طغينهمkata tersebut dalam riwayat addani terdapat ا setelah  ي yang menunjukan tidak adanya pembuangan huruf pada kata kata dalam alquran, dalam riwayat abu dawud di hilangkan ا setelah ي. Selain itu pada kata متع terdapat pembuangan huruf alif yang pada mushaf lain di tulis dengan kata متاع.
            Ayat alquran yang sering dibaca kemudian di analisis memiliki perbedaan, perbedaan ini terlihat dari segi tulisan hal ini bukan bagian dari kesalahan. karena dalam penulisan mushaf di lakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan terutama ilmu tulis-menulis dalam mushaf, seperti abu dawud memiliki kaidah tersendiri dalam penulisan mushaf, tanpa harus mengikuti dengan sepenuhnya
            Maka dari banyak di temukan porbedaan antara satu mushaf dengan yang mushaf yang lain di pengaruhi dari rujuakan mushaf itu, baik ada yang merujuk pada ulama rasm satu dengan ulma rasm yang lain. Dengan belajar ilmu rasm ini akan menambah pengetahuan mengenai kenapa di tulis dan kenapa di hilangkan, karna menghilangkan huruf atau menambah huruf dalam mushaf ada kaidah tersendri yang harus di pelajari dan harus difahami. Tanpa mempelajri dan memahi maka semua akan salah di mata kita.

C.   Kesimpulan
1.      Secara bahasa kata Rasm berarti bekas, tulisan, khath, zubur, dan raqm. Dan dibagi menjadi dua macam, yaitu qiyasi dan istilahi. Rasm Qiyasi yang biasa disebut juga dengan Rasm Imlai adalah peggambaran lafadz yang menggunakan huruf hijaiyah, dengan tetap memperhatikan standarisasi ibtida’ dan waqaf yang ada pada penulisan itu. Sedangkan yang dimaksud dengan Rasm Istilahi, yang juga disebut sebagai Rasm Usmanii, adalah model tulisan sahabat yang dipakai untuk menulis Musāf If Usmaniyah.
2.      secara umum dari spesifikasi cara penulisan kalimat-kalimat Arab, maka rasm dibagi menjadi tiga macam:
a.       Rasm Qiyasi, Yaitu cara menuliskan kalimat sesuai dengan ucapannya dengan memperhatikan waktu memulai dan berhenti pada kalimat tersebut.
b.      Rasm ‘Arudi yaitu, cara menuliskan kalimat-kalimat arab disesuaikan dengan wazan (timbangan) dalam sya’ir-sya’ir arab.
c.       Rasm Usmanai yaitu, Yakni cara penulisan al-Qur’an yang disepakati khalifah Usman bin ‘Affan pada waktu penulisan mushaf. Jika dibandingkan dengan dua rasm sebelumnya, terlebih rasm Qiyasi, rasm Usmani memiliki perbedaan dari beberapa segi.
3.      Mushaf utsmni ditulis mengunakan kaidah-kaidah tulisan tertentu yang berbeda dengan kaidah imla’i, diantaranya yaitu:
a.       Kaidah hazf al-huruf (membuang huruf). Kaidah ini selalu dikaitkan dengan isbat al-hurf (menetapkan huruf).
b.      Ziyadah al-huruf (penambahan huruf). Yaitu pemberian tambahan huruf dalam suatu kata, namun tidak mempengaruhi bacaan baik  ketika wasal maupun waqaf
c.       hamzah (penulisan hamzah). Ada empat pola penulisan hamzah dalam rasm utsmani,
d.      al-badl pada disiplin ilmu rasm kaidah al-badl berkaitan dengan beberapa ketentuan seperti,  pergantian huruf dalam ilmu rasm utsmani
e.       al-fasl wa al-wasl. Kaidah yang kelima ini sebenarnya berasal dari dua kaidah yaitu kaidah al-fasl (pemisahan kata )dan kaidah al-wasl (penyambungan kata).
f.        memiliki varian qira’ah yang berbeda, maka boleh dituliskan dengan pola salah satunya selama bukan qira’ah shaddah.






Daftar Pustaka
Ana , Retnoningsih dan Suharso. 2009.  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya.
Anwar, Muhammad Khoirul. "Rasm Usmani Dan Metode Penulisannya (Telaah Kodifikasi Al-Quran dan Perkembangan Rasm Usmani Dari Zaman Usman Hingga Sekarang)." Jurnal Ilmiah Citra Ilmu 13.26 (2017): 149-157.
Arifin , Zaenal. 2013. Kajian Ilmu Rasm Utsmani dalam Al-Qur’an, Jurnal Suhuf. Vol. 6, No. 1 Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an.
 As-Suyuti Jalaluddin.1999.al-itq>an fi> Ulum al-Quran, Ed Khalid al-Attar. Beirut: Dar al Fikr.
Febrianingsih , Dian. 2016. Sejarah Perkembangan Rasm Ustmani . H, Al-Murabbi Vol. 2, No. 2.
Hakim, Abdul. "Metode Kajian Rasm, Qiraat, Wakaf dan Dabt pada Mushaf Kuno (Sebuah Pengantar)." SUHUF Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya 11.1 (2018): 77-92.
Hakim, Abdul. "Perbandingan Rasm Mushaf Standar Indonesia, Mushaf Pakistan, Dan Mushaf Madinah." SUHUF Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya 10.2 (2017): 371-404.
https://www.dosenpendidikan.co.id/analisis-isi/#Pengertian_Analisis_Isi_Menu. diakses pada jum’at,  27 maret 2020, pukul 01:26.
Hula, Ibnu Rawandhy N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016.
Khalil , Moenawir. 1985.  Al-Qur’an Dari Masa Kemasa. Cet. IV. Soloh: CV Ramdani.
Kinanti, Lutfia Putri, and Sudirman Sudirman. "Analisis kelayakan isi materi dari komponen materi pendukung pembelajaran dalam buku teks mata pelajaran sosiologi kelas xi sma negeri di kota bandung." SOSIETAS 7.1 (2017).
Madzkur, Zaenal Arifin. "Survei Bibliografis Kajian Penulisan Al-Qur’an." Suhuf Jurnal Pengkajian Al-Qur'an dan Budaya 12.1 (2019): 151-170.
Madzkur, Zainal Arifin.2012. Mengenal Rasm Usmani: Sejarah, Kaidah dan Hukum Penulisan al-Qur’an dengan Rasm Usmani, Lajnah Pentashih Mushaf AlQuran. Jurnal Suhuf. Vol. 5, No. 1.
Samsukadi, Mochamad. "Sejarah Mushaf'uthmani (Melacak Tranformasi Al-Qur'an Dari Teks Metafisik Sampai Textus Receptus)." Religi: Jurnal Studi Islam 6.2 (2015): 237-262.
Sya’roni , Mazmur. 1999.Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf al-Quran dengan Rasm Usmani, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Puslitbang Lektur Agama.




                  [1]Jalaluddin as-Suyuti, al-itq>an fi> Ulum al-Quran, Ed Khalid al-Attar (Beirut: Dar al Fikr, 1999), h. 87
[2] Muhammad  Natsir, “mukjizat Rasm Al-qur’an (telaah atas tulisan Mushaf Usmany)”, Skripsi, (Yogyakarta: Universitas Islam Negri Sunan Kalijaga, 2008), h. 17.
[3]  Dian Febrianingsih, Sejarah Perkembangan Rasm UstmaniH, Al-Murabbi Vol. 2, No. 2, Januari 2016, h. 294.
[4] Muhammad Natsir, “mukjizat Rasm Al-qur’an (telaah atas tulisan Mushaf Usmany)”, h. 15.
[5] https://www.dosenpendidikan.co.id/analisis-isi/#Pengertian_Analisis_Isi_Menu (diakses pada jum’at,  27 maret 2020, pukul 01:26)
[6]Suharso dan Ana Retnoningsih, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Semarang: Widya Karya, 2009), h. 37.
[7] Lutfia Putri Kinanti,dan sudirman, Analisis Kelayakan Isi Materi Dari Komponen Materi Pendukung Pembelajaran Dalam Buku Teks Mata Pelajaran Sosiologi Kelas Xi Sma Negeri Di Kota Bandung Vol; 7, No. 1, Sosietas: Jawa Barat, 2017. hal. 342.
[8]  Zainal Arifin, Survei  Bibliografis Kajian Penulisan Al-Qur’an Studi Literature Rasm Usmani Klasik Sampai Modern, Jurnal Suhuf, Vol. 12, No. 1, Juni 2019, h. 161.
               [9] Zainal Arifin Madzkur,Mengenal Rasm Usmani Sejarah, Kaidah, dan Hukum Penulisan al-Qur‟an dengan Rasm Usmani, Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur‟an, Jakarta, Suhuf, Vol. 5, No. 1, 2012, h. 82.
[10] Muhammad Khoirul Anwar, Rasm Usmani Dan Metode Penulisanya (Telaah Kodifikasi Al-Qur’an dan Perkembangan Rasm Usmani Dari Zaman Usman Hingga Sekarang), Cita ilmu, Vol. XIII, Oktober 2017, h. 153.
[11] Moenawir Khalil, al-qur’an dari masa kemasa, cet. IV, (Soloh: CV Ramdani, 1985), h. 27-28.
 [12]Ibnu Rawandhy Hula N. QAWAID AL-IMLA WA AL-KHAT: Kaidah-kaidah Menulis Huruf dan Kata Arab dan Seni Kaligrafi. ( IAIN Sultan Amai Gorontalo, 2016), h. 195.
[13] Abdul Hakim, Metoode Kajian Rasm, Qiraat, Wakaf Dan Dabt Pada Mushaf Kuno, Suhuf, Jurna Pengkajian al-Qur’an dan Budaya,  Vol. II, No. 1, Juni 2018, h. 81.
[14] Mazmur Syaroni, Pedoman Umum Penulisan dan Pentashihan Mushaf al-Quran dengan Rasm Usmani, (Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Agama Puslitbang Lektur Agama, 1998/1999), h. 10 
[15] Zaenal arifin, Kajian Ilmu Rasm Utsmani dalam Al-Qur’an, Jurnal Suhuf, Vol. 6, No. 1 (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, 2013), h. 8.
[16] Mochamad Samsukkadi, sejarah mushaf utsmani (melacak tranformasi al-qur’an dari teks metafisik sampai textus receptus), jurnal studi islam, Vol. 6, No. 2, Oktober 2015.
[17] Abdul Hakim, Perbandingan Rasm Mushaf Standar Indonesia, Mushaf Pakistan danMushaf Madinah : Analisis Rasm Kata Berkaidah Hazf al-Huruf. Jurnal Suhuf, Vol. 10, No. 2 (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran, 2017), h. 6.
[18] Chumairok Zahrotur Roudlah, Rasm Dalam Manuskrip Mushaf Al-Qur’an KH. Mas Hasan Masyruh, (Skripsi, UIN Sunan Ampel Surabaya. 2019). h. 31.

Komentar